Resensi Singkat #1


Sang Pencerah

Sutradara: Hanung Bramantyo
Pemain: Lukman Sardi, Yati Surachman, Slamet Rahardjo, Giring Ganesha, Ikranagara, Muhammad Ihsan Tarore, Zaskia Adya Mecca, Sujiwo Tejo, Dennis Adhiswara, Agus Kuncoro, Ricky Perdana, Mario Irwinsyah

Tahun Rilis: 2010

Masalah utama Sang Pencerah, buat saya pribadi, adalah fakta bahwa film ini disutradarai oleh Hanung Brahmantyo. Dan sejauh ini belum ada karya Hanung Brahmantyo yang benar-benar memuaskan saya. Saya tidak terlalu tahu detil-detil sejarah KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammaddiyah. Saya bahkan tidak terlalu tahu secara mendetil dengan Muhammaddiyah. Yang saya tahu, KH Ahmad Dahlan adalah tokoh yang besar. Dari segi kesejarahan, Sang Pencerah sudah mendapat kritikan pedas dari berbagai macam kalangan dari segi sejarah, baik sejarah KH Ahmad Dahlan, Muhammadiyah, atau malah penggambaran Yogya jaman tersebut.

Untuk sebuah large scale biopic, Sang Pencerah terbilang sangat mengecewakan. Sebenarnya, Sang Pencerah tampil sangat memukau di awal-awal. Hanung berhasil membangun rapi konfliknya dari awal hingga adegan pembakaran langgarnya KH Ahmad Dahlan. Pembangkaran langgar sendiri dihadirkan oleh Hanung sedramatis mungkin, sebuah klimaks yang baik. Sayangnya Hanung jadi keteteran pada adegan-adegan selanjutya–keteteran antara porsi biopic KH Ahmad Dahlan atau film tentang Muhammadiyah.

Saya sangat terganggu dengan penggunaan Ihsan Tarore sebagai Muhammad Darwis usia 15 tahun dan Lukman Sardi pada usia 21 tahun. Kedua aktor tersebut jelas berbeda, yang satu pesek yang satu mancung, dan bagaimana mungkin Muhammad Darwis tiba-tiba pendek dan suaranya mendadak tidak ngebass di usia 21 tahun? Kalau memang mau menggunakan aktor yang berbeda pada usia berbeda, pilihlah dengan bijak! Saya jadi ingat film
Atonement di mana karakter Briony Tallis dalam tiga usia diperankan oleh tiga aktor berbeda (Saoirse Ronan, Romola Garai, dan Vanessa Redgrave). Pemilihan ketiga aktor pemeran Briony Tallis dalam Atonement adalah contoh yang baik, bukan hanya dar segi kualitas akting tapi juga dari segi kemiripan fisik. Saya juga jadi ingat dengan film La vie en Rose dimana Marrion Cotilard memerankan tokoh Edith Piaf dari remaja sampai tua renta (dengan bantuan make-up). Kenapa Hanung tidak mencoba teknologi make-up semacam ini? Lagipula usia 15 dan 21 bukanlah usia yang terlalu jauh ....

Masalah lain datang dari penokohan. Penokohan tokoh, terutama tokoh lain selain KH Ahmad Dahlan, terasa sangat dua dimensi. Paling terasa pada tokoh Nyai Dahlan yang diperankan oleh Zaskia Mecca, istri Hanung Brahmantyo, murid-murid KH Ahmad Dahlan, dan beberapa kiyai yang memusuhi KH Ahmad Dahlan. Dunia Sang Pencerah di beberapa bagian juga terasa sepi (atau mati). Dan saya juga agak terganggu dengan penggunaan CGI (?) yang terlihat masih seperti tempelan untuk menyoroti keseluruhan setting jaman itu.

http://4.bp.blogspot.com/-0H2FLhaH8G0/TWvOgO_yp_I/AAAAAAAACNc/yP9H1lANsNk/s1600/B-.bmp


Merah Putih II: Darah Garuda

Sutradara: Conor Allyn & Yadi Sugandi
Pemain: Donny Alamsyah, Rahayu Saraswati, Lukman Sardi, T. Rifnu Wikana, Atiqah Hasiholan, Darius Sinathrya, Aryo Bayu, Rudy Wowor, Aldy Zulfikar

Tahun Rilis: 2010

Darah Garuda adalah film kedua dari trilogi Merah Putih. Setelah dikecewakan oleh film pertamanya, sebenarnya saya sama sekali tidak mau menonton lanjutannya. Tapi embel-embel festival di poster Darah Garuda benar-benar mengundang hasrat penasaran: Apakah trilogi ini mengalami peningkatan jauh dari film pertamanya sehingga mendapat apresiasi bagus di luar sana? Jawabannya (buat saya): tidak! Darah Garuda lebih bagus dari Merah Putih, tapi tidak bisa disebut peningkatan jauh dari Merah Putih.

Darah Garuda masih jauh dari sebuah film perang yang berani. Saya sangat berharap suatu hari nanti Indonesia bisa membuat sebuah film perang sekualitas (atau malah lebih) The Wind That Shakes the Barley. Atau kalau diingat-ingat, Indonesia dulu juga pernah punya film perang yang sangat bagus, Tjoet Nja' Dhien. Sayangnya, Darah Garuda hanya menampilkan kulit dari sebuah perang. Darah Garuda hanya berhasil sebagai film perang yang menghibur, tapi tidak lebih dari itu. Titik!

Setidaknya para pemeran tampil cukup solid di sini. Atiqah Hasiholan masih dengan gaya teaterikalnya yang sepertinya sudah tidak mungkin diturunkan lagi. Rudy Wowor tampil paling memukau.

http://4.bp.blogspot.com/-ol3Ag0qoak8/TWvKBW3RH8I/AAAAAAAACNE/W3FzLYGUHn0/s1600/C.bmp

0 comments:

Post a Comment

Adsens